Rabu, 08 November 2017

A. PENYELENGGARAAN  BK KARIR
Sebagai usaha pendidikan, Bimbingan karier mempunyai fungsi penunjang pelaksanaan kurikulum yang berlaku. Maka bimbingan karier memusatkan pendidikan utamanya pada individu siswa dan pada penciptaan situasi belajar yang berpusat dan bertolak dari siswa-kebutuhannya, cita-cita pendidikan dan kariernya, ciri-ciri pribadinya dan masalahnya.

1. . Peranan Konselor Sekolah atau Petugas Bimbingan
Perlunya keterlibatan seluruh staf sekolah memberikan layanan karier mengingat sifat bimbingan  yang merupakan usaha pendidikan. Tidak ada anggota staf yang bisa terbebas dari tanggung jawab pendidikan, apakah ia tenaga akademis, tenaga usaha kantor, bahkan seorang pesuruh sekolah atau sopir bus sekolah sekalipun mempunyai tanggung jawab pendidikan juga.
Mengenai tenaga pembimbing, disamping konselor di suatu sekolah, bisa ada jabatan konselor kepala yaitu bergantung pada besar-kecilnya populasi. Misal sekolah dengan populasi sekitar seribu orang maka lebih bisa diangkat seorang konselor kepala yang membawahi konselor regular. Masing-masing memiliki tugas pokok dalam layanan bimbingan khususnya bimbingan karier yaitu :
a. Konselor Kepala
1) Membantu kepala sekolah dalam menyusun program bimbingan, khususnya bimbingan karier, dengan memadukan pada keseluruhan program pendidikan sekolah (pengajaran).
2) Bertindak sebagai koordinator kegiatan-kegiatan program bimbingan.
3) Menerima siswa (klien) yang dirujuk kepadanya oleh konselor dan staf lainnya untuk ditangani kasusnya malalui proses konseling.
4) Membantu staf dalam melaksanakan programnya, memberi saran atau konsultasi teknik.
5) Menyediakan bahan-bahan keperluan untuk staf bimbingan dan juga staf pengajaran khususnya bahan informasi karier termasuk abstrak dan pembuatannya.
6) Menyelenggarakan dan memimpin pertemuan kasus (berhubungan dengan masyarakat dan menggunakan sumber masyarakat untuk pelaksanaan programnya)
7) Menjalin kerjasama dengan guru kelas dalam pengembangan dan penyelenggaraan pengajaran dan kegiatan lain berorientasi pada karier.
8) Membantu kepala sekolah dalam kegiatan penilaian keefektifan program bimbingan dengan ikut dalam perancangannya

b. Konselor
1) Mengumpulkan data seluruh siswa yang menjadi tanggung jawabnya, mengusahakan untuk terus diperbaruhi. Berupa data pribadi untuk perencanaan karier (prestasi belajar, cita-cita, kemampuan ekonomi orang tua, hasil tes IQ, tes bakat dll)
2) Megumpulkan bahan informasi karier dan informasi-informasi lainnya
3) Membantu konselor  kepala dalam penyelenggaraan survey masyarakat sekitar.
4) Memberikan informasi pendidikan dan karier kepada siswa, dan menyelenggarakan berbagai bimbingan kelompok.
5) Memberikan konseling karier pada siswa, konseling kelompok dengan menerapkan berbagai pendekatan yang cocok dengan kasus siswa.
6) Melaksanakan tugas layanan penempatan kurikulum/pengajaran dan penempatan karier dengan jalan membantu siswa memperoleh penempatan di sekolah (jurusan/program prakarya).
7) Menindak lanjuti keputusan penempatan siswa di sekolah atau ditempat kerja dengan mengadakan hubungan pada siswa secara berkala dan mempelajari kinerjanya.
8) Membantu guru dalam memahami murid-murid di kelasnya dengan menafsirkan data hasil tes dan inventory untuk kepentingan bimbingan karier dan pengajaran.
9) Membantu guru dalam kegiatan-kegiatan pengajaran dan kegiatan lain.

2. Penyelenggaraan BK Karir
Secara garis besar pemberian bimbingan karir dapat dilakukan melalui:
a. Model buku paket
Departemen pendidikan dan kebudayaan RI telah menyiapkan paket bimbingan karir yang terdiri dari :
1. Paket I. Tentang pemahaman diri yang berisi pokok – pokok materi meliputi :
a) Pengantar pemahaman diri
b) Bakat/kemampuan/potensi
c) Minat
d) Cita – cita / gaya hidup

Secar garis besar pelaksanaan paket I adalah untuk setiap sun topik diawali dengan penjelasan dari guru pembimbing tentang arti dari masing – masing sub topic dengan memberikan contoh – contoh. Siswa diminta untuk mengerjakan tugas – tugas yang telah ditetapkan pada lembar kerja atau lembar tugas.
Tugas pembimbing memberikan bantuan pemecahan masalah bila ada yang dialami siswa. Demikian sub topic i – iv sehingga akhirnya setiap siswa diharapkan dapat tercapai keadaan “memahami dirinya sendiri “.

2. Paket II
Tentang nilai – nilai yang terdiri dari :
a) Nilai – nilai kehidupaN
b) Saling mengenal nilai – nilai orang lain
c) Pertentangan nilai – nilai dalam diri
d) Pertentangan nilai – nilai pribadi dengan orang lain
e) Nilai – nilai yang bertentangan dengan kelompok masyarakat
f) Bertindak atas nilai – nilai pribadi

3. Paket III
Tentang pemahaman lingkungan yang terdiri dari :
1) Informasi pendidikan
2) Kekayaan daerah dan pengembangannya
3) Informasi jabatan

4. Paket IV
Tentang hambatan dan mengatasi hambatan yang terdiri dari ;
1) Faktor pribadi
2) Faktor lingkungan
3) Manusia dan hambatan
4) Cara – cara mengatasi hambatan

5. Paket V
Tentang merencanakan masa depan meliputi :
1) Menyusun informasi diri
2) Mengelola informasi diri
3) Mempertimbangkan alternative
4) Keputusan dan rencana
5) Menciptakan masa depanku

Setiap siswa memiliki prospek masa depan yang dicita – citakannya setelah melalui proses penyelesaian paket demi paket.
Bimbingan karier dengan buku paket merupakan bagian dari pemberlakuan kurikulum 1984. Paket I – paket V dirancang untuk diselesaikan dalam satu tahun, pada tahun pertama baik di SMA, SMP, umum.
 Dengan kata lain, paket adalah bentuk penyelengaraan bimbingan karier yang menggunakan ancangan pembelajaran (Depdikbud, 1984). Bimbingan karier dengan buku paket bermanfaat bagi salah satu cara pemberian layanan. Meskipun demikian, bimbingan karier dengan buku paket ini mengandung segi kelemahan. Kelemahan itu terdapat di dalam buku paket itu sendiri dan di dalam pelaksanaannya. Keberatan pokok adalah kurangnya dukungan sistem bagi pelaksanaannya di sekolah dan daerah.
2. Model Non Buku Paket
Bimbingan karir dengan buku paket merupakan cara baru dalam penyajian dan pendekatan. Sebelum model paket, bimbingan karir telah pula diberikan melalui beberapa cara antara lain :
a. Pengajaran Unit ( Unit Teaching )
Yaitu bimbingan karir yang dilaksanakan melalui pengajaran unit, baik secarakhusus maupun terintegrasi dengan kegiatan kurikuler.

b. Hari Karir ( Career day )
Yaitu pada hari – hari tertentu yang dipilih dan ditetapkan untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang berkaitanan dengan pemahamn diri dan pengembangan karir, sehingga diharapkan setelah melalui proses yang cukup setiap siswa akan memiliki bekal menghadapi masa depan optimis, percaya pada diri sendiri dan penuh kreatifitas. Kelemahan hari karier adalah acara ini bisa mengganggu jalannya pelajaran sehari-hari. Untuk mengatasi kelemahan ini hari karier diselenggarakan dengan mengambil waktu yang lebih pendek sekali acara.

c. Kegiatan Homeroom
Yaitu suatu kegiatan yang dilakukan dalam kelas bersama guru atau pembimbing atau wali kelas dengan menciptakan situasi seperti di rumah sehingga terdapat hubungan yang intim dan terbuka serta menyenangkan. Tujuan kegiatan ini adalah :
1) Bentuk kegiatannya bisa bervariasi atau berbeda – beda, tetapi isi kegiatannya dan maksudnya sama. Bentuk yang biasanya dikenal adalah sebagai berikut :
a) untuk lebih memahami siswa
b) mengadakan hubungan yang lebih akrab dengan siswa
c) untuk membantu kesulitan dan kebutuhan siswa



d. Karyawisata
Yaitu melalui kunjungan – kunjungan ke berbagai obyek tertentu yang ada kaitannya dengan pengembangan karier siswa.dalam kegiatan ini siswa diberi tugas yang disesuaikan dengan kecakapan dan tingkat tanggung jawab, kebutuhan dan minatnya. Untuk melaksanakan karyawisata dilakukan 3 langkah yaitu :
1) Persiapan Karyawisata berupa diskusi menentukan obyek, pembagian tugas, dan mengumpulkan informasi
2) Pelaksanaan karyawisata dengan mengamati, wawancara, mencatat, dan menggambar.
3) Pengolahan hasil karyawisata berupa pembuatan laporan.

e. Ceramah Nara sumber
Yaitu ceramah yang diberikan oleh nara sumber yang memiliki kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan yag sesuai dengan kebutuhan dalam rangka pengembangan karir.

f. Wawancara dengan pekerja
Dilakukan oleh siswa secara langsung terhadap mereka yang terlibat langsung dengan sesuatu jenis pekerjaan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang suatu karir tertentu sehingga dapat mengembangkan konsep diri siswa.

g. latihan kerja
yaitu suatu kesempatana tertentu siswa mengadakan latihan – latihan dalam kariri tertentu pada tempat kerja tertentu. Atau baiasanya disebut magang

h. kegiatan kurikuler
yaitu dalam bagian dari proses belajar mengajar bidang studi tertentu di dalamnya ada bagian yang bersifat kerja atau ketrampilan tertentu yang secara otomatis mampu merangsang siswa untuk berkarya / berkariri sesuai dengan minat dan kemampuannya.

B. BK KARIR UNTUK POPULASI KHUSUS

Anak berbakat adalah anak-anak yang memiliki kemampuan yang berbeda dari anak normal pada umumnya. Taylor (dalam Ichrom, 1988: 10) menjelaskan bahwa anak-anak gifted adalah mereka yang mempunyai dalam keunggulan dalam bidang akademik, kreativitas, perencanaan, komunikasi, kemampuan melihat kedepan, dan kemampuan mengambil keputusan.
Martinson (dalam Zahara Djaafar 2001: 2) menjelaskan bahwa anak-anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berbeda dengan pelayanan pendidikan di sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat dan terhadap diri mereka sendiri.
Konseling Populasi Khusus adalah Proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh konselor kepada konseli (individu atau kelompok) yang mengalami suatu masalah dengan ciri-ciri yang sama dan menempati ruang yang sama pada waktu tertentu secara khusus sehingga konseli memperoleh pemahaman yang lebih tentang dirinya, lingkungannya, dan masalahnya. serta mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dengan mampu mengarahkan potensi yang dimiliki kearah perkembangan yang optimal dan kemudian dapat mencapai kebahagian dalam hidupnya.

1. Ciri – Ciri Konseling Populasi Khusus.
a. Objek pasti lebih dari 2 orang.
b. Fokus pada konseli dengan ciri yang sama.

2. Tujuan Konseling  
a. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari kegiatan konseling ini ialah untuk membantu konseli dalam mencapai suutu kondisi yang normal dari suatu prilaku yang negati dan mengembalikan diri seseorang dari jiwa yang tertekan menjadi jiwa yang sehat dalam menjalani kehidupan dalam  bermasyarakat maupun menjalani proses pembelajaran.

b. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khususnya ialah agar konseli mampu menghadapi kenyataan yang telah terjadi dalam hidupnya dan mampu mengoptimalkan kemampuan yang ada dalam dirinya sehingga dapat berinteraksi pada lingkungan secara baik.

3. Sasaran Konseling Populasi Khusus
Adapun sasaran yang dituju oleh konselor adalah konseli yang mengalami permasalahan dalam kehidupannya seperti : anak-anak jalanan, wanita tuna susila, anak broken home, traumatik, penyandang HIV AIDS, anak Pank dll.

4. Peran Dan Fungsi Konseling
Peran dan fungsi adalah adalah upaya konselor dalam rangka untuk membantu klien, atau individu yang mengalami permasalahan dalam kehidupannya melalui proses hubungan pribadi sehingga klien dapat memahami diri sehubungan dengan masalah yang dihadapinya atau  yang di alaminya, sehingga klien atau konseli bisa mengatasinya sebaik mungkin. Fungsi konseling, yaitu:
a. Pemahan, yaitu membantu konseli agar memiliki pemahaan terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya, dan mampu mengembangakannya secara optimal.
b. Preventif, yaitu upaya konselor dalam rangka mengantisipasi terjadinya penyimpangan, atau mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan.
c. Pengembangan, upaya konelor untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, dan memfasilitasi perkembangan klien.
d. Perbaikan, upaya konselor dalam rangka membantu klien yang telah mengalami masalah. Misalnya traumatik, rehabilitasi dll.

5. Proses Konseling
Observasi dan penentuan subjek yang akan dikonseling, yaitu kegiatan yang dilakukan oleh konselor sebelum melakukan konseling yang sesungguhnya. Dalam hal ini, konselor melakukan tahap pendekatan secara persuasif, pendekatan secara individual, secara politik, terhadap konseli yang telah ditentukan untuk dilakukan layanan konseling dan lain-lain.
Penggambilan data secara lengkap terhadap sujek yang telah ditentukan, misalnya individu yang mengalami cacat fisik, baik itu nama, tempat tangal lahi, alamat, jenis kelamin, keluarga dan lain-lain.
Mengidentifikasi masalah, dalam hal ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung, tergantung pada problematika yang dihadapi oleh konselinya. Secara langsung biasanya adalah dengan cara wawancara dengan konseli dan tidak langsung yaitu melalui keluarga dekat, orang-orang dekatnya, misalnya adalah konseli yang tuna wicara dan lain-lain.
Setelah masalah atau problematika dari konseli telah teridentifikasi, maka tahap selanjutnya adalah menentukan masalahnya yaitu kata kunci masalah yang sesungguhnya, misalnya masalah trauma karena diperkosa dan lain-lain.
Pengentasan masalah, yaitu proses konseling yang sesungguhnya, yaitu pertemuan konselor dan konseli secara langsung dan bertatap muka, dalam rangka konselor membantu konseli, dalam hal ini adalah adanya komunikasi secara verbal, yang difokuskan pada masalah yang sesungguhnya, yang telah diidentifikasi diawal. Konselor melakukan konseling dengan teknik-teknik konseling, serta pendekatan-pendekatan tertentu sesuai dengan alur dan kondisi  fisik dan psikis dari konseli, sampai konseli benar-benar mampu menyelesaikan masalahnya, sesuai dengan arahan dan dorongan dari konselor.
Proses konseling dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja sesuai dengan norma-norma atau azas-azas konseling,  serta atas kesepakatan antara konselor dan konseli. Dalam hal ini bisa dilakukan di rumah panti jompo, bila koselinya adalah orang yang orang-orang panti jompo.

Perbedaan konseling biasa dan koneling khusus

KONSELING BIASA KONSELING KHUSUS
Subjek yang mendapatkan pelayanan bisa satu orang, ataupun lebih, bisa dalam beberapa kelompok, misalnya rehabilitasi pengguna narkoba, traumatik, dll.
Tidak terfokus hanya pada satu problem saja, karena problematikanya heterogen. Subjek pasti lebih dari 2 orang ( keseluruhan dari subjek/konseli).
Fokus permasalahan yang dihadapi, atau dinamika konseli adalah yang sama.


DAFTAR PUSTAKA

Gantina Komalasari, Dra. M.Msi., Eka Wahyubi, S.Pd. M.A.A.P.D., Karsih, M.Pd. Teori dan Teknik Konseling. Hal. 18-20.
http://konselor-irsyad-blog.blogspot.com/2012/10/peran-dan-fungsi-konseling.htm
Sutirna. 2013. Bimbingan dan Konseling. Bandung: Andi.
Tengku, Zahara J. 2001. Arah Pelayanan Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: UNP.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar